Kebingungan ini seperti sarapan pagi yang muncul tiap hari. Pada malam hari, depresi datang menghampiri. aku bingung, entah siapa yang membuatku bingung. Menatap masa depanku, aku tak mampu. Buram masa depanku, suram hari-hariku. Kemana pertanyaan ini harus aku tumpahkan, Tuhan. Aku tak mengerti tentang eksistensi. Bagaimana ini? aku tak tau caranya untuk berdamai dengan singkatnya kehidupan ini. Ada dua malaikat yang harus aku bahagiakan, Tuhan. Aku menatap masa depan hanya dengan harapan.Tuhan, cukupkah dengan harapan aku melangkah maju menuju masa depan yang indah?.
Waktu yang abadi namun tak akan
kembali...
Tak banyak bicara adalah caraku
untuk menyapa. Bagiku hidup ini hanyalah penjara duka lara yang merana dikala
realita datang menyapa. Beban berat kehidupan, tak dapat kulukiskan. Roda
kehidupan sedang berjalan, kadang merampas masa depan, kadang pula membawa masa
lalu yang memilukan. Waktu begitu membelenggu. Angin berhembus seperti
membawaku kembali ke masa lalu. Masa lalu mengajariku untuk menyambut masa
depanku. Namun bersyukur atas masa lalu tak pernah aku ucap.
Imajinasi, nyata atau khayalan...
Kupandangi lagit yang begitu
memukau, bagai masa depan yang tak dapat aku jangkau. Impian yang akan menjadi
imajinasi atau reality. Meski aku tak paham akan hidup tapi kutetap berdiri
tegap. Do’a yang selalu kubaca akan menemani realita agar aku dapat berdamai
denganya. Meski sang pencipta melihatku tapi aku tak akan bisa luput dari
dosaku. Semoga saja harapan akan jadi kenyataan, imajinasi menjadi reality.
Meski terus bermimpi tapi aku
tak akan pernah bisa lepas dari kekejaman hidup yang terus berjalan disampingku
bagai kekasihku. Aku siap untuk kau sakiti. Aku siap, tapi jangan biarkan aku
untuk berhenti berharap, sebab hanya itu yang aku punya.