Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi, Malaikat itu tak bersayap!


Joestin Gaarder adalah seorang intelektual dan penulis asal Norwegia tepatnya di kota Olso. Dia adalah seorang penulis yang unik, hampir pada setiap novel yang dia terbitkan dia selalu menempatkan sudut pandang seorang anak-anak dengan menonjolkan rasa penasaran mereka terhadap dunia. Pada novel Dunia Sophie, dia menulis kalau para filsuf itu memiliki kemiripan dengan anak-anak yaitu kepekaan mereka dan rasa penasaran yang besar akan hal-hal baru yang jarang dimiliki oleh orang dewasa pada umumnya. 

Mungkin kalian tau salah satu novel yang paling terkenal ciptaan Jostein Gaarder yaitu Dunia Sophie (Sophie's World) namun kali ini saya akan bercerita sedikit tentang salah satu novel ciptaan Jostein Gaarder juga yaitu Cecilia dan Malaikat Ariel atau Dunia Cecilia (Through a Glass, Darkly). Novel ini sangatlah menarik bagi saya karena memberi, serta membuka pandangan saya terhadap salah satu ciptaan Tuhan yaitu Malaikat. 

Dalam Agama Samawi Malaikat adalah salah satu ciptaan Tuhan selain Iblis dan Manusia, contoh dalam Agama Islam Malaikat itu adalah mahluk yang diciptakan dari cahaya (Nur) seperti apa yang dihadistkan oleh Nabi Muhammad "Malaikat telah diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam telah diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian" (Hadist Sahih Muslim 2996-60). 

Agama Samawi terdiri dari Islam, Kristen dan Yahudi, ketiga Agama tersebut mempunyai penggambaran malaikat yang berbeda-beda. Islam, Kristen dan Yahudi pada umumnya menggambarkan Malaikat itu mempunyai sayap namun penggambaran pada novel ini berbeda. Pada novel Cecilia dan Malaikat Ariel ini, ada seorang anak bernama Cecilia yang menderita kanker sehingga Cecilia harus menghabiskan hari-harinya di tempat tidur lalu suatu saat Malaikat datang, Malaikat itu bernama Ariel. Selanjutnya terjadilah dialog indah antara Cecilia dan Ariel, Cecilia bertanya dengan penuh kepolosan ke Ariel seperti yang saya tulisakan tadi kalau Joestin Gaarder itu suka memakai sudut pandang anak anak pada novelnya. Pada awalnya Cecilia tidak percaya kalau Ariel itu adalah Malaikat dan kemudian Cecilia bertanya "Mengapa engkau tidak memiliki sayap?, Lalu si Ariel menjawab "Sayap hanyalah takhayul lama". 

Penggambaran Malaikat justru tidak mempunyai sayap seperti apa yang tertanam dalam benak manusia pada hari ini. Saya sangat setuju dengan penggambaran Malaikat yang digambarkan dalam novel ini karena penggambaran malaikatnya sangat logis. Kita setuju kalau Malaikat itu adalah ciptaan yang berbeda, berbeda dari iblis dan juga manusia. Manusia tidak bisa terbang tapi hewan bisa dengan menggunakan sayap hewan-hewan seperti burung bisa terbang bebas di angkasa, manusia dan hewan pada dasarnya adalah ciptaan yang sama, dari darah, daging, tulang namun yang membedakan hanyalah akal. 

Sementara Malaikat adalah ciptaan yang tidak terdiri dari darah, daging ataupun tulang. Kita pakai konsep penciptaan malaikat dalam Islam yaitu Malaikat tercipta dari cahaya (Nur). Sekarang pertanyaannya jika Hewan yang tercipta dari darah, daging dan tulang membutuhkan sayap untuk terbang, kenapa Malaikat juga membutuhkan sayap untuk terbang padahal Malaikat adalah ciptaan yang berbeda. Menurut saya, Malaikat tidak membutuhkan sayap untuk terbang karena Malaikat itu bisa terbang kemana saja tanpa sayap karena pada ayat-ayat atau firman-firman yang ada dalam kitab suci Samawi hanyalah metafora untuk menjelaskan kalau malaikat bisa terbang kemana saja dengan menggunakan simbol sayap sebagai penanda. 

Jadi sayap hanyalah simbol yang diinterpretasikan manusia yang dilekatkan pada malaikat untuk menjelaskan cara Malaikat terbang di dunia ini. Lebih lanjut pada novel tersebut digambarkan kalau Malaikat itu berwujud seperti halnya manusia namun tanpa rambut di kepala, tangan, kaki, ketiak dll. Malaikat juga tidak makan, tidak merasakan sakit, senang, sedih, lapar ataupun haus karena itu hanyalah kebutuhan manusia yang dimana kita tau Malaikat dan Manusia adalah ciptaan yang berbeda. 
Bersambung...
Share:
spacer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar