Berawal dari
harapan yang menuai pada pahitnya kenyataan. Aku beri kepadamu sebuah janji dan
harapan yang menitik pada ketiadaan. Masih teringat senja yang kita hadiri,
sebagai awal dari kisah yang terpaksa kuakhiri. Awalnya aku percaya akan akhir
yang bahagia denganmu, tapi jalan hidupku bukan untukmu. Mencegahmu pergi tak
mungkin aku lakukan sebab kebahagiaanmulah yang terdepan. Untuknya
kupersembahkan malaikat yang sempat hadir untuk membuatku paham akan arti dari
cinta dan hidup. Lalu untukmu kupersembahkan senyum yang akan bersemayam abadi
di tiap malammu. Tersenyumlah padanya, kepada dia yang akan menjadi ayah dari
anak-anakmu, kelak aku akan datang sembari tersenyum kaku dihapadanmu. Jika
saja kau bersamaku nanti akankah kau percaya kepadaku?. Menurutmu kebahagian
apa lagi yang kau ragukan jika bersamaku?.
Terlambat atau terenggut...
Siang telah berubah
menjadi senja memaksaku merasakan indahnya realita. Aku tak akan pernah
menyalahkan siapapun, bahkan tuhan sekalipun. Mungkin cinta yang sempurna seperti
ini adanya, dengan melihat dia bersama orang lain dan aku turut berbahagia atas
kebahagiaannya.
“Her happiness is your happiness”
Meski begitu,
beginilah mungkin paras dari kesempurnaan hidup. Menikmati kesempurnaan dari
kopi dan pahitnya, layaknya seperti kesempurnaan hidup bersama realitanya. Tak
ada air mata yang merintik mengiri kepergianmu ke lain pelukan, membaca masa
lalu bersamamu yang telah memuai dalam dusta harapan yang pernah kuberikan,
atau memang tak layak kujadikan kenyataan. Cerita hidup kita berakhir di awal
pertemuan.
Angan-angan dan kenangan...
Kutelah merajut
kenangan dalam kenikmatan hidup bersamamu meski sesaat namun tak akan
kulupakan. Mengeja namamu di antara kerlap bintang di malam hari bersama
bayangmu yang selalu hadir menemani. Apalah dayaku sebagai manusia yang haus
akan cinta, berbagai rasa namun pahit yang datang menyapa, meski itu sesaat
tapi berasa antara abadi dan selamanya. Kebahagian kita terenggut, mungkin
bukan kebahagian kita tapi kebahagiaanku.
“Sadness And Sorrow”
Waktu kadang
mengulang juga mengenang. Menikmati sisa dari harapan yang dulu kita
perjuangkan, mungkin aku yang berjuang dan juga aku yang terbayang.
“Oh, can you tell I haven’t sleep very well
since the last time that we spoke, you said please understand if I see you
again don’t even say hello” Please...
Please stay!
“All the love’s still there and I just don’t
know what to do with it now. You know, I still can’t believe we both did some
things I dont wanna think about”
“Just say you love me and I’ll say I’m sorry
I don’t want anybody to feel this way”
Please stay!
Sepenggal lagu yang
selalu kulantunkan di tengah sepi, Kau tak perlu ikut bersedih, cukup aku saja
yang menikmati indahnya pedih. Berbahagialah dengannya dan percaya aku akan
selalu ada meski tak begitu nyata. Aku hanya ingin mencoba memahami arti dari
pahitnya sebuah harapan yang tak akan pernah menyentuh realita dan terus menerka-nerka.
Tuhan, permintaanku sederhana, biarkan dia berbahagia meski tanpa kehadiranku,
biarkan aku saja yang merasakan sakit, biarkan saja aku yang merindu, biarkan
saja dia lupa terhadapku. Jangan biarkan air matanya menetes karenaku, karena
harapan kami yang menyatu dengan masa lalu. Aku mencoba menutup kisah duka yang
terus berkelanjutan meski tanpamu di hari-hariku, biar aku saja yang merasakan
semua luka atas harapan kita yang memudar dan bersemayan dalam lingkup masa
lalu.
Don’t stay!