Purnama kelabu di malam yang tabu, sungguh monolog yang
sangat lucu…
Menatap langit-langit dunia yang nampak nyata namun kutau
semua itu hanyalah ilusi yang di buat oleh sang pesulap. Simsalabim…
“Maka terkutuklah tanah karena
engkau, semak dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, karena dari tanah
kau di ambil. Sebab engkau adalah debu dan kau akan kembali menjadi debu”.
Aku tersenyum kepada
purnama di malam itu, nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku,
“Kau tak nyata, kau hanyalah
aktor dari sang sutradara yang kekal”.
Bagiku tetap tersenyum adalah respon yang terbaik.
“Dan Sesungguhnya
kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
“Kemudian kami
jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
“Kemudian air mani
itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”
“Kemudian, sesudah
itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Ada banyak makna di
balik sebuah kata ataupun kalimat, ada yang harus di mengerti, mungkin juga ada
yang tidak. Sang pencipta merahasiakan dirinya sampai kelak ketika kita sudah
pantas untuk berdiri di hadapannya, semuanya akan jelas. Sekarang purnama
bersinar terang, menerangi sunyi di tengah lelap para aktor, namun tetap saja
tangisan masih terdengar.
Apakah arti dari
sebuah makna?
Kita hidup, singkat? Tentu saja
Tak sempurna?... Tentu
Bodoh… kadang-kadang
“Tapi kami tak peduli dengan semua itu karena mungkin seperti itulah
kami diciptakan. Dan ketika waktunya mati, kami tidak menolaknya, kami yang
memanggilnya.”