ke-Angan

Kepada Angan, Kenangan...

Ada satu hari yang kurekam jernih dalam siluet memori ingatanku, akan kehadiranmu yang sesaat dan pergi dengan kenangan yang begitu tragis. Aku juga ingat akan tempat pertama kita bertegur sapa dengan tersipu malu, yang ku lanjutkan dengan pertanyaan penuh kenapa. Aku sadar mungkin sekarang aku terjebak dalam nostalgia kenangan yang telah permanen dalam ingatan. Aku sempat berharap kepada waktu agar cepat membenamkan semua ini dalam lupa, tapi terlalu berharga untuk kulupakan meski selalu berakhir dengan lantunan senandung durja. Sekarang ada yang hilang dari hari-hari yang kujalani, seperti ruang hampa dalam diri yang tak terisi. Benakku terus menerka-menerka, namun sungguh nihil nan begitu nyata. Waktu berlalu dan terus berputar dalam semesta rutinitas yang kujalani.

Di hadapan senja aku selalu mengucap rindu, sungguh penutup hari yang begitu pilu. Aku rela akan segala kehendak takdir, tapi bagaimana aku harus bedamai dengan kenangannya. Aku terus berjalan dalam ruang waktu yang hampa, dalam rutinitas yang tak berkualitas. Batinku tak bisa menolak adanya bayangmu dan lisanku mungkin berkata sebaliknya, sungguh munafik. Mungkin jika suatu hari nanti ajal telah memilihku maka akan kuceritakan kisah ini kepada malaikat agar mereka tau hidup itu indah dengan kenangannya. Aku akan selalu menyimpannya dalam album kenangan berbentuk memori dalam ingatan dan kuberi nama “All of Us”.
Setidaknya aku tau lagu kesukaanmu, saat itu kita bernyanyi dalam keceriaan meski sekarang kita menyanyikannya dalam kenangan. Aku masih sering menyanyikan lagu itu, duduk di atas kursi kenangan kita berdua, memainkan gitar serta hati yang selalu tegar menghadapi hidup.

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all, all of me
And you give me all, all of you, oh



                                            How many times do I have to tell you                           

Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing, in my head for you

spacer

Memo

Memo 1
Semoga kata “kita” bisa bersama dengan “cinta”. Menawan? Anggun? ... Mungkin, Mungkin tak bisa kugambarkan. Namamu telah kusebut di hadapan-Nya, semoga kita bisa bersama, selamanya. Mungkin aku telah paham dengan menyikapi cinta agar tak selalu berujung dengan pilu. Mungkin ini bukan fiksi tapi realita yang kucoba iringi dengan do’a, setidaknya untuk menjaganya tetap nyata. Tuhan, dia selalu dapat mengingatkanku kepada-Mu, apakah aku salah jika aku jatuh hati kepadanya?. Tuhan, engkau telah sering mendengar lantunan do’aku yang aku panjatkan dalam sholatku, juga do’aku kepadanya. Tuhan, aku tak memaksa untuk memilikinya, yang aku inginkan hanyalah kebahagiaannya, senyum di wajahnya, juga tawa yang selalu membuatku larut dalam do’a-do’a. Tuhan, dia mendekatkanku kepada-Mu, namun aku juga begitu takut, sebab aku hanyalah manusia, manusia yang suka mendamba dengan tangan yang penuh dosa.

Memo 2
Aku ingat awal dari pertemuan kita berdua, mungkin aku tidak terlalu banyak bercakap, sebab ketika kupandangi wajahmu aku pasti akan tersenyum lengkap dengan do’a. Do’a yang ku ucap dalam hati, semoga tuhan mendengar dan mengasihi, Aku pikir itu pasti, sebab dialah Maha Mengetahui. Dari pertemuaan singkat kita, aku mungkin paham satu hal darimu, yaitu sepi yang terkadang datang menjamu. Terlihat di matamu, kau mencoba melawan zaman, aku sangat menyukai hal itu darimu namun itu memilukan. Tapi mungkin juga aku salah karena dengan realita aku selalu kalah.

Memo 3

Senyuman yang selalu mewakili do’aku, dalam ibadah menghadap-Nya adalah milikmu. ini sungguh sangat lucu, imajinasiku hanya memutar balikkan pertemuan kita di alamnya sendiri. Aku teringat akan suatu hal yang biasa kupikirkan yaitu, apakah ada yang sempurna di dunia?, bahkan alam imajinasi yang begitu indah mempunyai kekurangan. Mungkin itu karena alam imajinasi tak bisa berjalan bersama realita. Namun sudahlah aku tak mau terus bercumbu dengan alam mimpi bersamamu, percuma jika tak bisa menyatu dengan realita, ujungnya pasti hanyalah pilu. Tapi, aku hanya yakin akan dua hal yaitu Menghalalkan atau Mengikhlaskan.
spacer