Ini Tak Masuk Akal


Kucoba untuk mencabut pedih dalam lirih, namun tetap saja masih perih
Mataku masih merekam hari itu dengan jernih, juga mulut yang berbicara begitu fasih
Memutar balikkan waktu sebagai tanda frustasi, seperti itu jika yang berbicara adalah hati
Rindu yang berkobar bagai api, serta mengalir bagai air dalam nadi ini

Hati telah mengeluh pada logika, menggugat diri untuk merdeka
Sunyi datang disertai fakta, pahit dan tak bisa kuterima semua realita
Menyapa rindu yang bersemayam dalam kekurangan, membuat diri ini larut dalam kesenangan
Di ujung rindu ada kenangan, kenangan yang dirampas oleh kepentingan

Dalam imajinasi rindu menjadi nyata, namun perasaan masih meronta-ronta
Mungkin jalan hidupku bersama realita, waktu merenggut dan menyita
Jika harus merindu pada waktu, aku akan selalu menatap masa lalu
Waktu yang membelenggu masa lalu, namun caraku kembali hanya dengan merindu
spacer

Demi Masa



Kebingungan ini seperti sarapan pagi yang muncul tiap hari. Pada malam hari, depresi datang menghampiri. aku bingung, entah siapa yang membuatku bingung. Menatap masa depanku, aku tak mampu. Buram masa depanku, suram hari-hariku. Kemana pertanyaan ini harus aku tumpahkan, Tuhan. Aku tak mengerti tentang eksistensi. Bagaimana ini? aku tak tau caranya untuk berdamai dengan singkatnya kehidupan ini. Ada dua malaikat yang harus aku bahagiakan, Tuhan. Aku menatap masa depan hanya dengan harapan.Tuhan, cukupkah dengan harapan aku melangkah maju menuju masa depan yang indah?.

Waktu yang abadi namun tak akan kembali...

Tak banyak bicara adalah caraku untuk menyapa. Bagiku hidup ini hanyalah penjara duka lara yang merana dikala realita datang menyapa. Beban berat kehidupan, tak dapat kulukiskan. Roda kehidupan sedang berjalan, kadang merampas masa depan, kadang pula membawa masa lalu yang memilukan. Waktu begitu membelenggu. Angin berhembus seperti membawaku kembali ke masa lalu. Masa lalu mengajariku untuk menyambut masa depanku. Namun bersyukur atas masa lalu tak pernah aku ucap.

Imajinasi, nyata atau khayalan...

Kupandangi lagit yang begitu memukau, bagai masa depan yang tak dapat aku jangkau. Impian yang akan menjadi imajinasi atau reality. Meski aku tak paham akan hidup tapi kutetap berdiri tegap. Do’a yang selalu kubaca akan menemani realita agar aku dapat berdamai denganya. Meski sang pencipta melihatku tapi aku tak akan bisa luput dari dosaku. Semoga saja harapan akan jadi kenyataan, imajinasi menjadi reality.

Meski terus bermimpi tapi aku tak akan pernah bisa lepas dari kekejaman hidup yang terus berjalan disampingku bagai kekasihku. Aku siap untuk kau sakiti. Aku siap, tapi jangan biarkan aku untuk berhenti berharap, sebab hanya itu yang aku punya.


spacer

Uknown


Apa ini?
Rasa yang menghantuiku sejak kau memilih bersama mahluk vertebrata yang lain
Seperti sesak di dada namun tak dapat kugambarkan karena Imajinasiku tak lagi bekerja secara sistematis
Aku tak mengerti apa arti dari rasa ini, bukan cinta dan juga bukan benci

Apa ini?
Engkau mengundangku ke acara sucimu bersamanya agar rasa ini dapat aku tuntaskan
Tapi itu tak bekerja lagi sebab aku telah mati rasa
Serta hati dan pikiranku tak lagi bisa beroperasi

Apa ini?
Kurelakan kau karena realita telah angkat bicara
Layaknya perintah tuhan yang mutlak dan tak dapat aku bantahkan
Tapi biarkan aku menjadi iblis yang membangkang perintah-Nya agar aku tetap bisa merindu

Rindu?
Apakah itu nama dari perasaan yang tak terterka oleh logika ini?
Aku hanya butuh obat yang dapat melepaskanku dari belenggu perasaan ini
Apakah dengan melihatmu bahagia denganya dapat melepasku dari belenggu ini?
Entahlah...


spacer

Musik Kehidupanku


Senandung itu begitu indah
Tapi instrumental itu begitu memilukan
Teriakan tanda depresi
Begtulah kehidupanku

Musik itu menggabarkannya
Layaknya senandung indah yang dimainkan oleh malaikat
Dan instrumental kesedihan dari sang iblis
Mereka tak peduli teriakanku

Mereka tak menggubris
Teriakanku kini disertai air mata
Aku mencoba untuk memainkan melodi ini
Namun tak mengubah apapun

Aku tetap memainkan melodi ini
Hingga aku tersenyum dan tertawa
Terdengar alunan yang indah dari iblis dan malaikat itu
Hingga mereka juga ikut tersenyum

spacer

Sejengkal Perjalanan Di Panggung Sandiwara


Aku memulai kebodohanku dengan tangisan...
Namun malaikatku menyambutnya dengan kesenangan...
Kemarau dan hujan berlalu begitu cepatnya...
Bion yang mati ini menempuh dengan segenap akalnya...

Namun Skenario ini penuh dengan tanda tanya...
Sehingga kami depresi karenanya...
Perjalananku ini begitu melelahkan...
Bukan perjalananku tapi perjalanan kami yang melelahkan...

Aku berdiri dan bertanya kepada tiang logikaku...
Namun itu hanyalah batasanku...
Aku berlari dan bertanya kepada kepercayaanku...
Namun itu hanyalah batasanku...

Saat aku meninggalkan bion yang mati ini...
Zat kekal ini meninggalkan panggung sandiwara ini...
Lalu akhirnya zat yang kekal ini berada dalam sidang...
Namun sindang ini bukanlah panggung dari sandiwara pembohong...

Hakim yang adil ada di sini mengadili...
Dia hakim yang seadil-adilnya mengadili...
Penjara api yang kekal disebut neraka...
Dunia yang penuh ketenangan disebut  surga...

spacer