What does it mean?



Purnama kelabu di malam yang tabu, sungguh monolog yang sangat lucu…
Menatap langit-langit dunia yang nampak nyata namun kutau semua itu hanyalah ilusi yang di buat oleh sang pesulap. Simsalabim…
 “Maka terkutuklah tanah karena engkau, semak dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, karena dari tanah kau di ambil. Sebab engkau adalah debu dan kau akan kembali menjadi debu”.
 Aku tersenyum kepada purnama di malam itu, nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku,
 “Kau tak nyata, kau hanyalah aktor dari sang sutradara yang kekal”.
Bagiku tetap tersenyum adalah respon yang terbaik.
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
“Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
“Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”
“Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Ada banyak makna di balik sebuah kata ataupun kalimat, ada yang harus di mengerti, mungkin juga ada yang tidak. Sang pencipta merahasiakan dirinya sampai kelak ketika kita sudah pantas untuk berdiri di hadapannya, semuanya akan jelas. Sekarang purnama bersinar terang, menerangi sunyi di tengah lelap para aktor, namun tetap saja tangisan masih terdengar.
Apakah arti dari sebuah makna?
Kita hidup, singkat? Tentu saja
Tak sempurna?... Tentu
Bodoh… kadang-kadang
“Tapi kami tak peduli dengan semua itu karena mungkin seperti itulah kami diciptakan. Dan ketika waktunya mati, kami tidak menolaknya, kami yang memanggilnya.”
spacer

ke-Angan

Kepada Angan, Kenangan...

Ada satu hari yang kurekam jernih dalam siluet memori ingatanku, akan kehadiranmu yang sesaat dan pergi dengan kenangan yang begitu tragis. Aku juga ingat akan tempat pertama kita bertegur sapa dengan tersipu malu, yang ku lanjutkan dengan pertanyaan penuh kenapa. Aku sadar mungkin sekarang aku terjebak dalam nostalgia kenangan yang telah permanen dalam ingatan. Aku sempat berharap kepada waktu agar cepat membenamkan semua ini dalam lupa, tapi terlalu berharga untuk kulupakan meski selalu berakhir dengan lantunan senandung durja. Sekarang ada yang hilang dari hari-hari yang kujalani, seperti ruang hampa dalam diri yang tak terisi. Benakku terus menerka-menerka, namun sungguh nihil nan begitu nyata. Waktu berlalu dan terus berputar dalam semesta rutinitas yang kujalani.

Di hadapan senja aku selalu mengucap rindu, sungguh penutup hari yang begitu pilu. Aku rela akan segala kehendak takdir, tapi bagaimana aku harus bedamai dengan kenangannya. Aku terus berjalan dalam ruang waktu yang hampa, dalam rutinitas yang tak berkualitas. Batinku tak bisa menolak adanya bayangmu dan lisanku mungkin berkata sebaliknya, sungguh munafik. Mungkin jika suatu hari nanti ajal telah memilihku maka akan kuceritakan kisah ini kepada malaikat agar mereka tau hidup itu indah dengan kenangannya. Aku akan selalu menyimpannya dalam album kenangan berbentuk memori dalam ingatan dan kuberi nama “All of Us”.
Setidaknya aku tau lagu kesukaanmu, saat itu kita bernyanyi dalam keceriaan meski sekarang kita menyanyikannya dalam kenangan. Aku masih sering menyanyikan lagu itu, duduk di atas kursi kenangan kita berdua, memainkan gitar serta hati yang selalu tegar menghadapi hidup.

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all, all of me
And you give me all, all of you, oh



                                            How many times do I have to tell you                           

Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing, in my head for you

spacer

Memo

Memo 1
Semoga kata “kita” bisa bersama dengan “cinta”. Menawan? Anggun? ... Mungkin, Mungkin tak bisa kugambarkan. Namamu telah kusebut di hadapan-Nya, semoga kita bisa bersama, selamanya. Mungkin aku telah paham dengan menyikapi cinta agar tak selalu berujung dengan pilu. Mungkin ini bukan fiksi tapi realita yang kucoba iringi dengan do’a, setidaknya untuk menjaganya tetap nyata. Tuhan, dia selalu dapat mengingatkanku kepada-Mu, apakah aku salah jika aku jatuh hati kepadanya?. Tuhan, engkau telah sering mendengar lantunan do’aku yang aku panjatkan dalam sholatku, juga do’aku kepadanya. Tuhan, aku tak memaksa untuk memilikinya, yang aku inginkan hanyalah kebahagiaannya, senyum di wajahnya, juga tawa yang selalu membuatku larut dalam do’a-do’a. Tuhan, dia mendekatkanku kepada-Mu, namun aku juga begitu takut, sebab aku hanyalah manusia, manusia yang suka mendamba dengan tangan yang penuh dosa.

Memo 2
Aku ingat awal dari pertemuan kita berdua, mungkin aku tidak terlalu banyak bercakap, sebab ketika kupandangi wajahmu aku pasti akan tersenyum lengkap dengan do’a. Do’a yang ku ucap dalam hati, semoga tuhan mendengar dan mengasihi, Aku pikir itu pasti, sebab dialah Maha Mengetahui. Dari pertemuaan singkat kita, aku mungkin paham satu hal darimu, yaitu sepi yang terkadang datang menjamu. Terlihat di matamu, kau mencoba melawan zaman, aku sangat menyukai hal itu darimu namun itu memilukan. Tapi mungkin juga aku salah karena dengan realita aku selalu kalah.

Memo 3

Senyuman yang selalu mewakili do’aku, dalam ibadah menghadap-Nya adalah milikmu. ini sungguh sangat lucu, imajinasiku hanya memutar balikkan pertemuan kita di alamnya sendiri. Aku teringat akan suatu hal yang biasa kupikirkan yaitu, apakah ada yang sempurna di dunia?, bahkan alam imajinasi yang begitu indah mempunyai kekurangan. Mungkin itu karena alam imajinasi tak bisa berjalan bersama realita. Namun sudahlah aku tak mau terus bercumbu dengan alam mimpi bersamamu, percuma jika tak bisa menyatu dengan realita, ujungnya pasti hanyalah pilu. Tapi, aku hanya yakin akan dua hal yaitu Menghalalkan atau Mengikhlaskan.
spacer

Harapan dan Dusta


Berawal dari harapan yang menuai pada pahitnya kenyataan. Aku beri kepadamu sebuah janji dan harapan yang menitik pada ketiadaan. Masih teringat senja yang kita hadiri, sebagai awal dari kisah yang terpaksa kuakhiri. Awalnya aku percaya akan akhir yang bahagia denganmu, tapi jalan hidupku bukan untukmu. Mencegahmu pergi tak mungkin aku lakukan sebab kebahagiaanmulah yang terdepan. Untuknya kupersembahkan malaikat yang sempat hadir untuk membuatku paham akan arti dari cinta dan hidup. Lalu untukmu kupersembahkan senyum yang akan bersemayam abadi di tiap malammu. Tersenyumlah padanya, kepada dia yang akan menjadi ayah dari anak-anakmu, kelak aku akan datang sembari tersenyum kaku dihapadanmu. Jika saja kau bersamaku nanti akankah kau percaya kepadaku?. Menurutmu kebahagian apa lagi yang kau ragukan jika bersamaku?.

Terlambat atau terenggut...
Siang telah berubah menjadi senja memaksaku merasakan indahnya realita. Aku tak akan pernah menyalahkan siapapun, bahkan tuhan sekalipun. Mungkin cinta yang sempurna seperti ini adanya, dengan melihat dia bersama orang lain dan aku turut berbahagia atas kebahagiaannya.
“Her happiness is your happiness”
Meski begitu, beginilah mungkin paras dari kesempurnaan hidup. Menikmati kesempurnaan dari kopi dan pahitnya, layaknya seperti kesempurnaan hidup bersama realitanya. Tak ada air mata yang merintik mengiri kepergianmu ke lain pelukan, membaca masa lalu bersamamu yang telah memuai dalam dusta harapan yang pernah kuberikan, atau memang tak layak kujadikan kenyataan. Cerita hidup kita berakhir di awal pertemuan.

Angan-angan dan kenangan...
Kutelah merajut kenangan dalam kenikmatan hidup bersamamu meski sesaat namun tak akan kulupakan. Mengeja namamu di antara kerlap bintang di malam hari bersama bayangmu yang selalu hadir menemani. Apalah dayaku sebagai manusia yang haus akan cinta, berbagai rasa namun pahit yang datang menyapa, meski itu sesaat tapi berasa antara abadi dan selamanya. Kebahagian kita terenggut, mungkin bukan kebahagian kita tapi kebahagiaanku.
“Sadness And Sorrow”
Waktu kadang mengulang juga mengenang. Menikmati sisa dari harapan yang dulu kita perjuangkan, mungkin aku yang berjuang dan juga aku yang terbayang.
“Oh, can you tell I haven’t sleep very well since the last time that we spoke, you said please understand if I see you again don’t even say hello” Please...
Please stay!
“All the love’s still there and I just don’t know what to do with it now. You know, I still can’t believe we both did some things I dont wanna think about”
“Just say you love me and I’ll say I’m sorry I don’t want anybody to feel this way”
Please stay!

Sepenggal lagu yang selalu kulantunkan di tengah sepi, Kau tak perlu ikut bersedih, cukup aku saja yang menikmati indahnya pedih. Berbahagialah dengannya dan percaya aku akan selalu ada meski tak begitu nyata. Aku hanya ingin mencoba memahami arti dari pahitnya sebuah harapan yang tak akan pernah menyentuh realita dan terus menerka-nerka. Tuhan, permintaanku sederhana, biarkan dia berbahagia meski tanpa kehadiranku, biarkan aku saja yang merasakan sakit, biarkan saja aku yang merindu, biarkan saja dia lupa terhadapku. Jangan biarkan air matanya menetes karenaku, karena harapan kami yang menyatu dengan masa lalu. Aku mencoba menutup kisah duka yang terus berkelanjutan meski tanpamu di hari-hariku, biar aku saja yang merasakan semua luka atas harapan kita yang memudar dan bersemayan dalam lingkup masa lalu.

Don’t stay!




spacer

Lovable

Aku ingin lupa. Lupa segalanya tentangmu, menghapus kehadiranmu di tiap malamku yang penuh nelangsa karenamu. Pergilah, dan kumohon jangan tinggalkan bekas lagi, sebab itu akan mengingatkanku akan luka yang sering kau hadiri. Terkadang aku begitu naif, sungguh begitu naif. Kadang aku terpaksa tersenyum, seolah-olah aku telah lupa segalanya tentangmu. Namun percuma membohongi perasaan yang bisu, sebab kebenaran akan melupakanmu sungguh begitu palsu. Ajarkan aku cara membecimu, biarkan ucapan kasar yang keluar dari mulut ini mencibirmu.

Kabar dari relung hatiku...

Ingin kukabarkan kisah duka kepada dunia tapi bibir ini masih saja kaku jika bercerita tentang kita. Jalan hidupku masih saja tentangmu, bayangmu, pelukmu hingga wajahmu yang selalu hadir dalam semu. Masa lalu yang masih saja menjadi benalu dan tak pernah ingin beranjak pergi dariku. Ingin kusesali  waktu yang aku buang percuma karena dirimu yang selalu datang menyapa dikala aku sedang bercumbu dalam sepi. Namun aku tak pernah menyalahkan waktu sebab waktu tak pernah membawaku kembali pada saat itu, saat dimana kebahagiaan kita masih hangat dalam ikatan satu.

Dosa air mata ingatan masa lalu...
Datang dari masa lalu yang terus menghadirkan rindu...
Tak bisa kulupa semua tentangmu yang selalu hadir dalam bayang semu...
Waktu yang dapat membuat cinta menjadi benci dan ingat menjadi lupa. Aku percaya padamu...
Waktu...

Air mata yang tak akan pernah kau pahami...

Merintik bersama hujan, air mataku jatuh dilain pelukan. Mendengar kabarmu yang telah bersama orang lain cukup membuatku tenang dalam hangatnya kebersamaan. Dalam do’aku namamu telah tiada, mungkin sudah usang karena luka. Segala tentangmu masih ada di sini, yaa di sini.. di hati. Namun tak akan lama lagi peggantimu akan hadir sebab aku percaya tuhan itu selalu memberi yang terbaik di akhir. Sudah cukup tentangmu, sekarang saatnya aku tersenyum. Mungkin suatu saat kau akan hadir lagi, membawa rasa yang baru agar kita dapat bersatu kembali. Namun maaf, tak ada lagi cinta yang dapat kuberi. Jangan usik malamku lagi, biarkan aku berpelukan bersama sepi jika itu adalah cara yang terbaik untuk melupakanmu. Sekali lagi maaf, jika suatu saat aku telah lupa...
spacer

Ini Tak Masuk Akal


Kucoba untuk mencabut pedih dalam lirih, namun tetap saja masih perih
Mataku masih merekam hari itu dengan jernih, juga mulut yang berbicara begitu fasih
Memutar balikkan waktu sebagai tanda frustasi, seperti itu jika yang berbicara adalah hati
Rindu yang berkobar bagai api, serta mengalir bagai air dalam nadi ini

Hati telah mengeluh pada logika, menggugat diri untuk merdeka
Sunyi datang disertai fakta, pahit dan tak bisa kuterima semua realita
Menyapa rindu yang bersemayam dalam kekurangan, membuat diri ini larut dalam kesenangan
Di ujung rindu ada kenangan, kenangan yang dirampas oleh kepentingan

Dalam imajinasi rindu menjadi nyata, namun perasaan masih meronta-ronta
Mungkin jalan hidupku bersama realita, waktu merenggut dan menyita
Jika harus merindu pada waktu, aku akan selalu menatap masa lalu
Waktu yang membelenggu masa lalu, namun caraku kembali hanya dengan merindu
spacer

Demi Masa



Kebingungan ini seperti sarapan pagi yang muncul tiap hari. Pada malam hari, depresi datang menghampiri. aku bingung, entah siapa yang membuatku bingung. Menatap masa depanku, aku tak mampu. Buram masa depanku, suram hari-hariku. Kemana pertanyaan ini harus aku tumpahkan, Tuhan. Aku tak mengerti tentang eksistensi. Bagaimana ini? aku tak tau caranya untuk berdamai dengan singkatnya kehidupan ini. Ada dua malaikat yang harus aku bahagiakan, Tuhan. Aku menatap masa depan hanya dengan harapan.Tuhan, cukupkah dengan harapan aku melangkah maju menuju masa depan yang indah?.

Waktu yang abadi namun tak akan kembali...

Tak banyak bicara adalah caraku untuk menyapa. Bagiku hidup ini hanyalah penjara duka lara yang merana dikala realita datang menyapa. Beban berat kehidupan, tak dapat kulukiskan. Roda kehidupan sedang berjalan, kadang merampas masa depan, kadang pula membawa masa lalu yang memilukan. Waktu begitu membelenggu. Angin berhembus seperti membawaku kembali ke masa lalu. Masa lalu mengajariku untuk menyambut masa depanku. Namun bersyukur atas masa lalu tak pernah aku ucap.

Imajinasi, nyata atau khayalan...

Kupandangi lagit yang begitu memukau, bagai masa depan yang tak dapat aku jangkau. Impian yang akan menjadi imajinasi atau reality. Meski aku tak paham akan hidup tapi kutetap berdiri tegap. Do’a yang selalu kubaca akan menemani realita agar aku dapat berdamai denganya. Meski sang pencipta melihatku tapi aku tak akan bisa luput dari dosaku. Semoga saja harapan akan jadi kenyataan, imajinasi menjadi reality.

Meski terus bermimpi tapi aku tak akan pernah bisa lepas dari kekejaman hidup yang terus berjalan disampingku bagai kekasihku. Aku siap untuk kau sakiti. Aku siap, tapi jangan biarkan aku untuk berhenti berharap, sebab hanya itu yang aku punya.


spacer

Uknown


Apa ini?
Rasa yang menghantuiku sejak kau memilih bersama mahluk vertebrata yang lain
Seperti sesak di dada namun tak dapat kugambarkan karena Imajinasiku tak lagi bekerja secara sistematis
Aku tak mengerti apa arti dari rasa ini, bukan cinta dan juga bukan benci

Apa ini?
Engkau mengundangku ke acara sucimu bersamanya agar rasa ini dapat aku tuntaskan
Tapi itu tak bekerja lagi sebab aku telah mati rasa
Serta hati dan pikiranku tak lagi bisa beroperasi

Apa ini?
Kurelakan kau karena realita telah angkat bicara
Layaknya perintah tuhan yang mutlak dan tak dapat aku bantahkan
Tapi biarkan aku menjadi iblis yang membangkang perintah-Nya agar aku tetap bisa merindu

Rindu?
Apakah itu nama dari perasaan yang tak terterka oleh logika ini?
Aku hanya butuh obat yang dapat melepaskanku dari belenggu perasaan ini
Apakah dengan melihatmu bahagia denganya dapat melepasku dari belenggu ini?
Entahlah...


spacer

Musik Kehidupanku


Senandung itu begitu indah
Tapi instrumental itu begitu memilukan
Teriakan tanda depresi
Begtulah kehidupanku

Musik itu menggabarkannya
Layaknya senandung indah yang dimainkan oleh malaikat
Dan instrumental kesedihan dari sang iblis
Mereka tak peduli teriakanku

Mereka tak menggubris
Teriakanku kini disertai air mata
Aku mencoba untuk memainkan melodi ini
Namun tak mengubah apapun

Aku tetap memainkan melodi ini
Hingga aku tersenyum dan tertawa
Terdengar alunan yang indah dari iblis dan malaikat itu
Hingga mereka juga ikut tersenyum

spacer

Sejengkal Perjalanan Di Panggung Sandiwara


Aku memulai kebodohanku dengan tangisan...
Namun malaikatku menyambutnya dengan kesenangan...
Kemarau dan hujan berlalu begitu cepatnya...
Bion yang mati ini menempuh dengan segenap akalnya...

Namun Skenario ini penuh dengan tanda tanya...
Sehingga kami depresi karenanya...
Perjalananku ini begitu melelahkan...
Bukan perjalananku tapi perjalanan kami yang melelahkan...

Aku berdiri dan bertanya kepada tiang logikaku...
Namun itu hanyalah batasanku...
Aku berlari dan bertanya kepada kepercayaanku...
Namun itu hanyalah batasanku...

Saat aku meninggalkan bion yang mati ini...
Zat kekal ini meninggalkan panggung sandiwara ini...
Lalu akhirnya zat yang kekal ini berada dalam sidang...
Namun sindang ini bukanlah panggung dari sandiwara pembohong...

Hakim yang adil ada di sini mengadili...
Dia hakim yang seadil-adilnya mengadili...
Penjara api yang kekal disebut neraka...
Dunia yang penuh ketenangan disebut  surga...

spacer